Potensi Peningkatan Sampah di Bulan Ramadhan

Oleh : Refa Riskiana, S.Si

              Bulan Ramadhan disambut dengan penuh suka cita oleh kaum muslim di seluruh dunia. Segala amal ibadah terbaik disiapkan untuk dilaksanakan pada moment tersebut sesuai janji-Nya untuk melipatgandakan ganjaran pahala ibadah yang dilakukan penuh keikhlasan di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sepanjang siang hari sejak terbit fajar hingga maghrb menjelang, kaum muslim berpuasa menahan lapar dan dahaga, tak perduli teriknya sengatan matahari. Termasuk seperti yang kita semua rasakan, sengatanlapar dan dahaga kian terasa terutama bagi kita yang berada di kawasan kepulauan yang dikelilingi lautan seperti Pulau Bangka. Terik matahari sudah menjadi sahabat kita sehari-hari, namun panas matahari terasa lebih menyengat pada saat kita menahan lapar dan haus selama menjalankan ibadah puasa.

            Godaan lapar dan haus selama menjalankan puasa seringkali memicu kita untuk menghabiskan lebih banyak sumber daya untuk memenuhi hasrat pada saat berbuka puasa. Entah karena rasa lapar atau sekedar “lapar mata” sehigga godaan beraneka ragam pangan yang disajikan penjaja makanan di banyak tempat terasa begitu menggiurkan. Banyak makanan tersaji, namun kenyataannya hanya sedikit yang mampu kita cerna. Hingga makanan yang tadinya tampak menggoda harus berakhir di keranjang sampah sebagai limbah padat domestik alias sampah. Bagi sebagian masyarakat yang masih memiliki hewan ternak peliharaan, makanan yang tersisa masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Namun bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, memelihara hewan ternak bukan lagi suatu hal yang jamak dilakukan. Akibatnya, di perkotaan sisa makanan berakhir di tempat pengolahan akhir (TPA).


sumber : www.google.com

                  Indonesia merupakan Negara nomor 2 penghasil sampah makanan terbanyak di dunia. Studi yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2016 mengenai komposisi sampah di TPA Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan bahwa komponen limbah padat domestik terbesar yang ada di TPA adalah sampah sisa makanan yaitu sebesar 40,20% dan diikuti oleh komponen sampah plastik sebesar 17,33%. Dengan meningkatnya pola konsumsi masyarakat dan melihat gaya hidup di bulan ramadhan, maka diprediksi jumlah sampah sisa makanan yang masuk ke TPA juga meningkat. Peningakatan volume limbah padat domestik khususnya jenis sampah sisa makanan sudah diprediksi oleh banyak pihak. Berdasarkan pedoman pelaksanaan pengukuran komposisi sampah di TPA, dijelaskan bahwa pengukuran komposisi sampah tidak boleh dilakukan pada saat jumlah sampah di TPA meningkat, misalnya saat bulan puasa dan hari-hari besar keagamaan. Berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan tersebut, jelas diisyaratkan bahwa selama bulan puasa akan terjadi peningkatan volume limbah padat domestik atau sampah, dan hal tersebut benar-benar terjadi di sekitar kita, bahkan dirumah kita sendiri. Mungkin bagi sebagain orang, sisa makanan yang tidak habis dimakan bukanlah persoalan besar. “Bukankah makanan itu saya beli dengan uang saya sendiri”, begitu mungkin pembelaannya. Persoalan yang timbul bukan sekedar berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membeli makanan tersebut, namun ada dampak ikutan dari yang kita hasilkan, yaitu sampah sisa makanan.

            Seperti yang kita ketahui, sampah yang kita hasilkan akan dibawa ke TPA, termasuk sampah sisa makanan. Sampah makanan yang terurai di TPA akan menghasilkan gas rumah kaca berupa gas Methana (CH4). Dengan system pengelolaan sampah di TPA yang belum melakukan penangkapan dan pemanfaatan Methana, maka gas Methana yang dihasilkan akan dilepaskan ke atmosfer sehingga menimbulkan dampak rumah kaca. Satu partikel gas Methana yang dilepaskan ke atmosfer, memiliki Global Warming Potensial (GWP) setara dengan 21 partikel gas Karbondioksida (CO2).  Global Warming Potensial (GWP) atau kemampuan potensi pemanasan global adalah suatu angka yan digunakan untuk membandingkan kemampuan gas-gas rumah kaca yang berbeda untuk memerangkap panas di atmosfer. Dengan demikian, sisa makanan yang dibawa ke TPA akan  menyebabkan meningkatkan konsentrasi gas Methana di atmosfer. Sehingga secara tidak disadari kegiatan manusia (anthropogenic) telah meningkatkan konsentrasi GRK, bahkan tanpa sadar kita lakukan seperti sikap mubazir terhadap makanan.

            Tidak hanya itu, sampah sisa makanan juga dapat menyebabkan pencemaran pada air tanah, terutama pada lokasi sekitar TPA. Timbunan sampah organik (termasuk didalamnya adalah sampah sisa makanan) dapat menimbulkan lindi. Lindi yang merupakan cairan yang dihasilkan dari paparan air hujan pada timbunan sampah akan membawa materi tersuspensi dan terlarut yang merupakan produk degradasi sampah serta mikroba patogen. Di TPA yang dikelola oleh pemerintah, lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah telah dikelola dalam kolam lindi sebelum keluar ke media lingkungan. Namun tumpukan sampah tidak terkelola yang berada di luar TPA, air lindi dapat merembes masuk ke dalam tanah sehingga menyebabkan terkontaminasinya air permukaan dan air tanah disekitarnya dan menyebabkan tercemarnya sumur-sumur dangkal yang dimaanfaatkan penduduk sebagai sumber air minum.

            Seharusnya, jumlah sampah sisa makanan ini dapat ditekan dengan merubah kebiasaan kita agar bijaksana dalam mengkonsumsi makanan. Sehingga jenis sampah berupa sisa makanan yang dihasilkan dapat dikurangi. Alternatif lain untuk mengurangi sampah sisa makanan adalah dengan menerapkan pola pengolahan sampah 3R, (Reduced-Reuse-Recyle). Dengan metode ini sampah sisa makanan dapat diolah menjadi kompos. Pembuatan kompos skala rumah tangga telah lama digalakkan dengan memanfaatkan sampah sisa makanan dan sampah organic diskitar rumah lainnya, misalnya sampah taman berupa daun-daunan. Sayangnya pengolahan sampah menjadi kompos belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dan belum menjadi kebiasaaan dalam masyarakat kita. Maka Perintah Allah dalam QS. Al A’Raaf ayat 31 yang artinya “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihanseharusnya mampu menggugah kita untuk menjauhi sikap mubazir, sekaligus merupakan sumbangsih kita terhadap kelestarian lingkungan.

                                                       

 

 

Penulis: 
Refa Riskiana, S.SI
Sumber: 
BIDANG PENGAWASAN DAN PENATAAN LINGKUNGAN HIDUP
Tags: 
sampah | sampah di bulan ramadan | sisa makanan | GRK

Artikel

31/12/2018 | DLH Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
04/06/2018 | BIDANG PENGAWASAN DAN PENATAAN LINGKUNGAN HIDUP
10/01/2018 | DLH Prov Kep Bangka Belitung
04/09/2017 | Lab DLH Prov Babel
10/01/2018 | Refa Riskiana, S.SI
04/09/2017 | Robi Al Akbar
31/12/2018 | Lala Lazuardina, ST
27/01/2017 | Muhammad Erisco Nurrahman