Perubahan iklim, sudahkah kita beradaptasi ?

Pertengahan tahun 2017 lalu, banjir besar menggenangi Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, disebabkan hujan berkepanjangan mengguyur berhari-hari. Padahal seperti yang dulu kita ketahui bahwa pertengahan tahun tersebut bukanlah masa-masa musim penghujan. Dak dapat disangkal bahwa kini perubahan iklim dan pergeseran musim telah kita rasakan. Perubahan iklim dan pergeseran musim ini tidak hanya terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Beitung saja, namun terjadi di seluruh wilayah Indonesia, bahkan diseluruh dunia.

          Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan Perubahan iklim sebagai perubahan iklim yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga mengubah kompoisi atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada perioda waktu yang dapat diperbandingkan. Komposisi atmosfer global yang dimaksud adalah komposisi material atmosfer bumi berupa Gas Rumah Kaca (GRK) yang di antaranya, terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya. Pada dasarnya, Gas Rumah Kaca dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi tetap stabil. Akan tetapi, konsentrasi Gas Rumah kaca yang semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer tersebut menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi, yang disebut dengan pemanasan global. (http://ditjenppi.menlhk.go.id).

          Pemanasan global menimbulkan berbagai dampak pada kehidupan manusia. Dampak pemanasan global yang paling terasa adalah meningkatnya suhu  bumi yang kemudian diikuti pula dengan pergeseran dan perubahan iklim, yang selanjutnya menyebabkan perubahan pada kualitas dan kuantitas air.  Pemanasan global menyebabkan peningkatan jumlah air pada atmosfer, yang pada akhirnya akan meningkatkan curah hujan sehingga mengakibatkan banjir.  Oleh karena itu, tak heran apabila saat ini sering terjadi banjir bahkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai rutin kedatangan banjir sejak tahun 2015 lalu. Pada wilayah yang berada di pesisir laut, seperti Kepulauan Bangka Belitung, dampak perubahan iklim yang paling terasa adalah kejadian cuaca ekstrem. Termasuk dalam kejadian cuaca ekstrem ini adalah hujan lebat, badai, angin kencang, dan gelombang badai. Bahaya potensial perubahan iklim yang ditimbulkan oleh kejadian cuaca ekstrem ini dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas erosi dan abrasi yang dapat menyebabkan perubahan garis pantai, meningkatnya peluang kejadian banjir rob akibat badai dan gelombang badai serta pada akhirnya dapat mengakibatkan kerusakan sarana  dan prasarana public termasuk jalan dan jembatan.

            Ilustrasi pemanasan global (Sumber : www.google.com)

Secara tidak langsung perubahan iklim dan pemanasan global juga memberikan dampak negatif terhadap perekonomian masyarakat. Perubahan iklim tercatat telah menimbulkan hujan berkepanjangan sehingga menyebabkan gagal panen pada petani kopi di Bengkulu dan Nusa Tenggara Barat, juga menyebabkan kekeringan panjang sehingga mengakibatkan gagal panen pada petani di Riau dan Jawa Tengah. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri, dimana banyak masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari laut sebagai nelayan perikanan tangkap juga turut merasakan dampak perubahan iklim ini. Cuaca ekstrem yang terjadi diluar perkiraan tentu menyulitkan nelayan untuk melaut, sehingga mengganggu hasil tangkapan dan mata pencaharian nelayan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana Republik Indonesia, bahkan melaporkan bahwa perubahan iklim juga memberikan dampak terhadap kesehatan dan perilaku manusia. Salah satu penyakit yang banyak dikaji berkaitan dengan perubahan iklim ini adalah penyakit demam berdarah dengue, penyakit malaria dan penyebaran diare.

          Secara umum indicator-indikator perubahan iklim berupa temperature permukaan, curah hujan, suhu permukaan laut, tinggi muka laut, kejadian iklim ekstrem serta kejadian cuaca ekstrem (hujan lebat, badai angin kencang, dan gelombang badai). Kenaikan temperature permukaan dapat berakibat langsung pada manusia, tumbuhan, dan hewan (seperti : serangga). Pada Negara-negara yang memiliki musim panas, terlah terjadi gelombang panas (heat wave) yang dapat menelan korban jiwa, seperti yang terjadi di India pada tahun 2016 silam. Meskipun Indonesia tidak memiliki musim panas, namun meningkatnya suhu pada siang hari dapat mengakibatkan pemanasan setempat sepanjang hari sehingga penggunaan pendingin ruangan menjadi lebih sering dan meingkatkan konsumsi energy. Kenaikan suhu juga diduga mengakibatkan evapotrasnpirasi berlebihan pada tumbuhan, timbulnya kebakaran hutan, serta pengembangbiakan serangga lebih cepat dan luas. (BAPPENAS. RAN-API. 2014).

          Perubahan iklim yang kita rasakan saat ini merupakan dampak dari peningkatan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Jadi tanpa kita sadari, perubahan iklim yang kita rasakan merupkan buah dari perbuatan kita sendiri. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan dan Kehutanan telah menerapkan metode untuk mengetahui emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Emisi gas rumah kaca dihasilkan dari empat sektor utama, yaitu Pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU), sektor proses indutri dan penggunaan produk (IPPU), sektor energi dan sektor limbah. Pada sebagian besar provinsi di Indonesia, sektor Pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU) menimbulkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi. Sektor ini juga mencakup kebakaran lahan, dan alih fungsi lahan gambut.

          Pemerintah pusat melalui berbagai kementerian dan lembaga yang dimilikinya telah melakukan penghitungan dan menginventarisir kegiatan-kegiatan yang mengemisikan gas rumah kaca, dan telah menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca. Target penurunan emisi gas rumah kaca tersebut juga telah diditribusikan dan diamanatkan melalui berbagai sector. Misalnya pada sector energy, pemerintah mendukung pemanfaatan energy baru dan terbarukan, melalui sector limbah digalakkan metode pengolahan sampah 3R dan bank sampah, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun pekerjaan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca ini juga perlu didukung oleh pihak swasta, antara lain dengan melakukan reklamasi dan rehabilitasi pada lahan-lahan kritis, mengurangi timbulan limbah industry termasuk diantaranya adalah limbah pengolahan kelapa sawit yang banyak menghasilkan metana, serta mengurangi pemakaian pupuk kimia yang merupakan sumber-sumber emisi gas rumah kaca.

          Selain mengamanatkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, di hilirnya pemerintah juga telah menyiapkan system informasi data indeks kerentanan (SIDIK) yang memetakan nilai kerentanan suatu desa terhadap perubahan iklim. Sistem ini mengenalkan dua factor kerentanan yaitu indeks kerentanan dan sensitivitas (IKS) dan indeks kemampuan adaptif (IKA) yang dimiliki oleh setiap desa di Indonesia. Penting untuk diketahui bahwa indeks kerentanan dan sensitivitas (IKS) terdiri dari Sembilan indicator yaitu jumlah keluarga yang tinggal di bantaran sungai, jumlah bangunan yang berada di bantaran sungai, sumber air minum, kepadatan populasi, tingkat kemisikinan, fraksi luas sawah, fraksi areal pertanian, dan mata pencaharian utama. Menurut Rizaldy Boer, dkk dalam Pengenalan Konsep Dasar Analisis Kerentanan dan resiko Iklim, indeks kemampuan adaptif (IKA) menunjukkan kemampuan untuk mengatasi konsekuensi dari perubahan iklim. Indeks ini terdiri dari empat indicator yaitu fasilitas listrik, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan infrastruktur jalan.

          Dalam buku SIDIK yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, secara umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak termasuk sebagai provinsi yang tidak rentan terhadap Perubahan iklim. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdapat satu desa yang masuk kategori sangat rentan, 4 desa dalam kategori rentan, dan 213 yang berada dalam kategori cukup rentan terhadap perubahan iklim. Meskipun demikian bukan berarti kita masyarakat Bangka Belitung harus diam berpangku tangan menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata kita rasakan. Sebaliknya masyarakat dan pemerintah harus bahu membahu melakukan upaya-upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Pemerintah melalui berbagai organisasi perangkat daerah tentu diharapkan dapat melaksanakan pembangunan yang sesuai dengan tujuan adaptasi Indonesia, yaitu untuk mempertahankan ekonomi masyarakat yang kuat, untuk menjamin keamanan pangan, serta untuk melindungi mata pencaharian  dan kesejaheraan rakyat dengan membangun ketahanan bagi masyarakat yang terkena dampak serta ketahanan sector seperti ketahanan ekosistem, ekonomi dan system penghidupan (SIDIK, hal. 1)

          Secara konkrit aksi adaptasi perubahan iklim yang perlu ditingkatan adalah meningkatkan indeks kemampuan adaptif itu sendiri, yaitu meningkatkan penyediaan air bersih, konservasi air tanah, pengelolaan limbah, pemberdayaan masyarakat pesisir serta meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan. Tidak kalah penting bagi seluruh masyarakat adalah untuk mulai meningkatkan kemampuan adaptif dari lingkungan yang paling kecil dan dimulai dari diri sendiri yaitu merubah kebiasaan mengelola sampah, melakukan upaya hemat energy, melakukan penghijauan disekitar rumah, meningkatkan akses terhadap kesehatan pribadi serta senantiasa siaga terhadap bencana.

Adaptasi perubahan iklim (Ilustrasi : Koleksi pribadi)  

 

Penulis: 
Refa Riskiana, S.SI
Sumber: 
DLH Prov Kep Bangka Belitung

Artikel

31/12/2018 | DLH Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
04/06/2018 | BIDANG PENGAWASAN DAN PENATAAN LINGKUNGAN HIDUP
10/01/2018 | DLH Prov Kep Bangka Belitung
04/09/2017 | Lab DLH Prov Babel